NUNUKAN, borderterkini.com – Setelah berlangsung selama 14 hari sejak ditetapkan pada 8 Januari 2025, status tanggap darurat bencana banjir di Kecamatan Sembakung dan Kecamatan Sembakung Atulai, Selasa (21/1/).
Penutupan itu dilakukan langsung oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan, H Asmar di Sembakung.
Penutupan status tersebut dilakukan menyusul kondisi banjir yang terus berangsur surut serta aktivitas masyarakat di wilayah terdampak yang mulai kembali normal. Genangan air di sejumlah desa bantaran Sungai Sembakung dilaporkan telah surut signifikan.
Namun, selama masa tanggap darurat, BPBD Kabupaten Nunukan bersama Pemerintah Daerah, TNI, Polri, PMI, dan relawan kemanusiaan telah melakukan berbagai langkah penanganan darurat.
Upaya tersebut meliputi evakuasi warga terdampak, distribusi bantuan logistik, pelayanan kesehatan, serta pemantauan debit air sungai dan kondisi permukiman.
Berdasarkan data BPBD, Pemerintah Kabupaten Nunukan menyalurkan sedikitnya 1.700 lebih paket bantuan logistik ke wilayah terdampak banjir di Sembakung dan Sembakung Atulai.
Bantuan tersebut terdiri dari beras, mie instan, minyak goreng, gula, makanan siap saji, serta kebutuhan dasar lainnya yang didistribusikan melalui posko tanggap darurat dan desa-desa terdampak.
Selain Pemkab Nunukan, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Nunukan turut ambil bagian aktif dalam penanganan bencana. PMI menurunkan relawan untuk membantu distribusi logistik, menyediakan bantuan bahan pangan, air bersih, serta perlengkapan kebersihan guna menjaga kondisi kesehatan masyarakat selama banjir berlangsung.
Dalam banjir tersebut, BPBD mencatat sementara sebanyak 211 Unit rumah yang terendam banjir di Sembakung Atulai. Masyarakat yang terdampak sebanyak 343 KK dan 1.222 jiwa. Untuk Sembakung, jumlah rumah terendam sebanyak 1.020 unit, masyarakat yang terdampak dengan jumlah 1428 Kepala Keluarga dan 4461 jiwa.
Kepala BPBD Kabupaten Nunukan, Asmar, menyampaikan bahwa meskipun status tanggap darurat telah resmi berakhir, pihaknya tetap melakukan pemantauan dan pendampingan terhadap masyarakat terdampak.
“Status tanggap darurat memang sudah ditutup, namun pemantauan tetap kami lakukan. Masyarakat kami imbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan kenaikan debit air sungai, mengingat curah hujan masih berpeluang terjadi di wilayah hulu,” ujar Asmar.
Dengan berakhirnya masa tanggap darurat, penanganan banjir di Kecamatan Sembakung dan Sembakung Atulai kini memasuki tahap pemulihan.
BPBD bersama perangkat daerah terkait akan melakukan pendataan kerusakan rumah warga, fasilitas umum, serta menyusun kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
“Kita harap proses pemulihan dapat berjalan cepat sehingga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak dapat segera kembali normal,” pungkasnya.(*)





