NUNUKAN, borderterkini.com – DPRD Kabupaten Nunukan menyoroti sejumlah kekurangan serius pada Rumah Sakit Pratama (RSP) Sebatik yang dinilai berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan.
Salah satu perhatian utama DPRD adalah kondisi ruang operasi yang dinilai masih sempit dan belum ideal untuk menunjang tindakan medis secara optimal. Keterbatasan tersebut dianggap berpotensi menghambat kenyamanan pasien sekaligus efektivitas kerja tenaga kesehatan.
Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Nunukan, Dr. Andi Muliyono, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi ruang operasi yang ada saat ini. Menurutnya, peningkatan fasilitas menjadi kebutuhan mendesak agar pelayanan kesehatan dapat berjalan maksimal.
“Kami cukup prihatin. Ruang operasi yang ada masih kecil dan sempit. Ke depan perlu ada peningkatan agar pelayanan kesehatan lebih maksimal dan tenaga medis maupun pasien merasa lebih nyaman,” ujarnya pada Minggu (8/2).
Selain ruang operasi, DPRD juga menyoroti belum optimalnya layanan radiologi di RS Pratama Sebatik. Hal ini disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan, Andi Fajrul Syam, SH, yang menegaskan bahwa persoalan radiologi tidak bisa terus dibiarkan karena menjadi salah satu layanan penunjang penting dalam penanganan medis.
“Kami mendorong agar pegawai radiologi bisa segera didefinitifkan. Tanpa itu, layanan tidak akan berjalan maksimal. Di samping itu, penambahan ruangan dan armada mobil operasional juga sangat dibutuhkan, mengingat kondisi mobil yang ada saat ini sudah memprihatinkan,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan, Ramsah, menjelaskan bahwa berbagai kekurangan yang masih ada perlu segera ditindaklanjuti agar RS Pratama Sebatik dapat berkembang menjadi rumah sakit tipe D.
“Masih ada beberapa ruangan yang kurang, begitu juga alat-alat kesehatan. Ini penting untuk memudahkan masyarakat, terutama ibu hamil dan pasien yang membutuhkan tindakan operasi,” jelasnya.
Dari sisi infrastruktur, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Nunukan, Ryan Antoni, menilai kondisi bangunan dan fasilitas RS Pratama Sebatik secara umum sudah cukup baik. Namun, ia mengakui adanya kendala krusial yang belum teratasi, yakni ketiadaan dokter spesialis radiologi.
“Masalah utama radiologi bukan soal penanggung jawabnya, tetapi karena harus ditangani oleh dokter spesialis. Spesialis radiologi inilah yang belum tersedia,” ungkap Ryan.
Ia menegaskan, pemerintah daerah harus melakukan upaya serius untuk menghadirkan sumber daya manusia sesuai kualifikasi tersebut, meskipun tantangannya tidak ringan.
“Ini memang pekerjaan berat, tapi tetap wajib diupayakan,” tegasnya.
Diketahui, Senin (2/2) lalu, Ketua Komisi I, II dan III serta Sekretaris Komisi II DPRD Nunukan melakukan monitoring pelayanan kesehatan di RSP Sebatik. Dalam kunjungan itu, DPRD Nunukan juga mendorong agar RSP Sebatik dapat segera naik kelas atau menjadi tipe D.(*)





