Guru PAI dan Madrasah di Nunukan Digenjot Terapkan Kurikulum Berbasis Cinta

NUNUKAN, borderterkini.com – Penguatan pendidikan karakter di wilayah perbatasan terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Kabupaten Nunukan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan guru madrasah se-Kabupaten Nunukan.

Kegiatan yang berlangsung di ruang serbaguna lantai V Kantor Bupati Nunukan, Sabtu (18/04) ini diselenggarakan oleh Kementerian Agama Kabupaten Nunukan.

Mewakili Bupati H. Irwan Sabri, Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Pembangunan Alimuddin menegaskan bahwa guru memiliki peran strategis dalam membentuk generasi unggul di daerah perbatasan.

“Guru adalah ujung tombak pembangunan sumber daya manusia. Apa yang dilakukan guru hari ini akan menentukan kualitas generasi Nunukan di masa depan,” tegasnya.

Ia menyampaikan bahwa tantangan pendidikan di Nunukan masih cukup kompleks. Sebagai daerah dengan wilayah yang luas dan tersebar, pemerataan akses pendidikan masih menghadapi kendala geografis, keterbatasan transportasi, serta kesenjangan fasilitas antara wilayah perkotaan dan pedesaan.

“Kondisi ini tidak boleh menjadi hambatan. Justru harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan,” ujarnya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, terus melakukan berbagai langkah strategis, mulai dari peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, pemerataan akses layanan pendidikan, hingga penguatan kompetensi tenaga pendidik melalui pelatihan dan bimbingan teknis.

“Kami ingin memastikan seluruh anak di Nunukan mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas, tanpa terkecuali,” katanya.

Menurut Alimuddin, Kurikulum Berbasis Cinta menjadi pendekatan yang relevan untuk diterapkan karena menekankan proses pembelajaran yang humanis, penuh empati, dan menghargai potensi setiap peserta didik.

“Pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga proses menanamkan nilai, membangun karakter, dan menumbuhkan kepercayaan diri anak,” jelasnya.

Ia menambahkan, guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai figur teladan yang mampu membangun kedekatan emosional dengan siswa.

“Suasana belajar harus menyenangkan, aman, dan bermakna. Ketika anak merasa dihargai, mereka akan lebih mudah berkembang,” tambahnya.
Alimuddin berharap para peserta mampu mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta dalam proses pembelajaran sehari-hari.

“Ilmu dari pelatihan ini harus dibawa ke ruang kelas dan diterapkan secara nyata. Jangan berhenti pada kegiatan seremonial,” tegasnya.

Ia juga mengajak seluruh guru untuk terus berinovasi dalam metode pembelajaran serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Sinergi antara pemerintah daerah, Kementerian Agama, dan tenaga pendidik sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah perbatasan,” ujarnya.(*)

Tinggalkan Balasan