<p><strong>NUNUKAN</strong>, <em>borderterkini.com</em> – Ketergantungan masyarakat Kabupaten Nunukan terhadap produk Malaysia dinilai kian terkikis. </p>



<p>Hal ini ditegaskan langsung Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Nunukan, Mukhtar pada Kamis (8/1).<br>Dia mengatakan hampir seluruh kebutuhan pokok kini telah dipenuhi dari produk dalam negeri dengan harga lebih murah, kualitas lebih baik, dan jalur distribusi resmi.</p>



<p>&#8220;Semua agen-agen resmi yang besar di Nunukan sudah mendatangkan lebih banyak produk dalam negeri. Bahkan, kita melakukan pengecekan setiap pekannya untuk mengontrol pasokan di Nunukan,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Hanya saja, kata dia, saat ini hanya komoditas gula yang masih relatif bergantung pada pasokan Malaysia. Selebihnya, mulai dari beras, minyak goreng, telur, hingga bawang, sudah dikuasai produk lokal dan nasional.</p>



<p>&#8220;Kalau sekarang dibilang masih sangat tergantung, itu sudah tidak tepat. Hampir semua sembako kita sudah bisa penuhi sendiri. Yang masih agak tertinggal memang hanya gula,” tegas Muhtar.</p>



<p>Muhtar menjelaskan, minyak goreng dalam negeri menjadi salah satu contoh keberhasilan pengendalian pasar. Minyak goreng subsidi pemerintah dijual di kisaran Rp16.000 per liter, jauh lebih murah dibanding minyak Malaysia yang mencapai Rp20.000 per liter.</p>



<p>&#8220;Minyak kita dari CPO yang bagus dan disubsidi negara. Kualitasnya lebih baik, sementara minyak Malaysia sebagian kualitasnya rendah,” ujarnya.</p>



<p>Untuk komoditas beras, Pemkab Nunukan mengandalkan beras SPHP Bulog dengan harga Rp13.100 per kilogram. Meski beras Malaysia dijual sedikit lebih murah, Muhtar menegaskan produk tersebut masuk secara ilegal dan tidak melalui mekanisme bea masuk maupun karantina.</p>



<p>“Beras Malaysia itu ilegal. Tidak ada cukai, tidak ada pemeriksaan. Sementara beras kita resmi dan sesuai selera masyarakat Nunukan. Karena banyak masyarakat khusus di Nunukan itu beralih ke produk kita semuanya,” katanya.</p>



<p>Sementara itu, gula masih menjadi komoditas yang belum sepenuhnya kompetitif. Harga gula dari Surabaya berada di kisaran Rp17.000–Rp18.000 per kilogram, sedikit lebih mahal dibanding gula Malaysia. Namun, perbedaan harga tersebut terjadi karena gula Malaysia tidak dikenakan pajak dan bea masuk.</p>



<p>&#8220;Kalau dihitung, ongkos angkut gula dari Surabaya sekitar Rp1.000 per kilo. Kalau itu disubsidi, harganya bisa sejajar, bahkan lebih murah dari gula Malaysia. Bahkan, kualitas gula kita lebih unggul,” jelas Muhtar.</p>



<p>Untuk menekan peredaran produk ilegal sekaligus menjaga stabilitas harga, Dinas Perdagangan Nunukan terus mengintensifkan program pasar murah. Tahun ini, frekuensi pasar murah diperbanyak karena terbukti efektif mengendalikan inflasi.</p>



<p>“Tahun ini kami anggarkan lebih banyak. Satu daerah bisa dua sampai tiga kali dalam setahun, terutama menjelang hari besar keagamaan,” ungkapnya.</p>



<p>Dalam satu kali pelaksanaan, pasar murah menyiapkan sekitar lima ton sembako, terdiri dari beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya. Kegiatan ini menyasar wilayah Sebuku, Sembakung, Lumbis, hingga Tulin Onsoi.</p>



<p>Untuk wilayah Krayan, diakuinya, memang terjadi disparitas produk. Namun begitu, dia memastikan produk dalam negeri tetap banyak beredar di sana.<br></p>



<p>&#8220;Terlebih lagi, kita juga ada program SOA barang setiap tahun. Jadi puluhan ton produk dalam negeri masuk kesana,&#8221; terangnya.</p>



<p>Untuk Sebatik, kata dia, memang tak bisa dipungkiri lantaran kearian lokal yang kental berlaku disana. Hanya dia menyoroti kelegalitasannya.</p>



<p>&#8220;Disana itu ada juga Border trade. Nah, skema ini hanya untuk konsumsi rumah tangga, bukan untuk kepentingan dagang. Tapi di lapangan sering disalahgunakan. Itu yang sedang kita luruskan,” tegasnya.</p>



<p>Ia menutup dengan menegaskan bahwa anggapan Nunukan masih bergantung pada Malaysia sudah tidak relevan. Jika pun ada produk Malaysia, kata dia, hanya produk tentunya saja.</p>



<p>&#8220;Karena sudah ada produk kita sendiri yang lebih murah, lebih baik, dan resmi. Jangan lagi jadikan barang Malaysia sebagai andalan,” pungkas Muhtar.(*)</p>
<div class="printfriendly pf-button pf-button-content pf-alignleft">
 <a href="#" rel="nofollow" onclick="window.print(); return false;" title="Printer Friendly, PDF & Email">
 <img class="pf-button-img" src="https://cdn.printfriendly.com/buttons/printfriendly-pdf-email-button.png" alt="Print Friendly, PDF & Email" style="width: 170px;height: 24px;" />
 </a>
 </div>
This website uses cookies.