Sembako Mulai Menipis, Jalan Krayan Selatan Makin Rusak Parah

NUNUKAN, borderterkini.com – Kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah kembali berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat di Kecamatan Krayan Selatan.

Distribusi kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) menuju wilayah dataran tinggi itu mulai tersendat, menyebabkan stok bahan pangan di sejumlah kampung kian menipis.

Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, mengungkapkan bahwa persoalan ini bukan hal baru. Setiap musim hujan tiba, akses jalan penghubung antarwilayah kembali berubah menjadi lintasan berlumpur yang sulit, bahkan nyaris mustahil dilalui kendaraan bermotor.

“Curah hujan cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir membuat kondisi jalan semakin parah. Di beberapa titik, jalan berubah seperti kubangan lumpur. Kendaraan roda dua maupun roda empat sangat sulit melintas,” kata Oktavianus.

Akibat kondisi tersebut, frekuensi kendaraan pengangkut sembako yang masuk ke Krayan Selatan terus menurun. Para sopir enggan mengambil risiko karena medan jalan yang ekstrem dapat menyebabkan kendaraan rusak atau terjebak berhari-hari di tengah hutan.

“Dalam beberapa hari terakhir, stok sembako mulai berkurang. Mobil yang biasa masuk membawa barang semakin jarang. Kalau dipaksakan masuk, risikonya sangat besar,” jelasnya.
M

Meski demikian, Oktavianus menyebutkan bahwa untuk jangka pendek, kebutuhan masyarakat masih dapat terpenuhi. Namun situasi ini hanya bersifat sementara jika tidak segera ada perbaikan akses jalan.

“Untuk sekitar satu pekan ke depan masih relatif aman. Tapi kalau kondisi ini berlarut-larut dan distribusi terus terhambat, tentu akan berdampak lebih serius,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, terdapat sejumlah titik jalan yang mengalami kerusakan berat. Tidak hanya licin dan berlumpur, beberapa ruas jalan bahkan nyaris tidak bisa dikenali sebagai badan jalan akibat genangan air dan tanah longsor kecil.

“Ini bukan hanya menyulitkan distribusi sembako, tapi juga mobilitas warga secara umum. Yang nekat melintas kadang harus siap menginap di hutan atau terjebak di tengah jalan,” ungkapnya.

Ironisnya, kondisi ini kembali terulang hampir setiap tahun. Oktavianus menyebut persoalan jalan di wilayah Krayan sebagai masalah lama yang belum kunjung tuntas.

“Kalau boleh dibilang, ini seperti penyakit lama yang kambuh lagi. Setiap musim hujan, masalahnya selalu sama. Jalan rusak, distribusi terhambat, masyarakat yang terdampak,” pungkasnya.

Masyarakat berharap adanya perhatian serius dan langkah nyata dari pemerintah daerah maupun provinsi agar akses jalan di wilayah perbatasan ini tidak lagi menjadi penghambat utama roda perekonomian dan kebutuhan dasar warga.(*)

Tinggalkan Balasan