<p><strong>NUNUKAN</strong>, <em>borderterkini.com</em> &#8211; Komisi II DPRD Nunukan akhirnya memangil Perumda Air Minum Tirta Taka Nunukan.</p>



<p>Hal itu terkait dugaan perekrutan belasan pegawai yang dinilai tidak tranparan.<br />Rapat yang digelar di ruang Ambalat I DPRD Nunukan dipimpin oleh Ketua Komisi II, Andi Fajrul Syam dan dihadiri sejumlah anggota DPRD Nunukan.</p>



<p>Sementara dari Perumda Air Minum Tirta Taka dihadiri langsung oleh direkturnya dan jajarannya.<br />Namun perjalanan rapat itu diwarnai aksi pukul meja dan walk out oleh Anggota DPRD Nunukan, Donal, pada Senin (12/1) siang.</p>



<p>Donal menegaskan, persoalan utama yang disuarakannya dalam rapat tersebut adalah ketidakadilan dan tertutupnya sistem penerimaan karyawan Perumda Air Minum Tirta Taka Nunukan.</p>



<p>Ia menilai, proses rekrutmen terkesan hanya berputar di lingkaran tertentu tanpa informasi terbuka kepada publik.<br />“Tidak ada keadilan, tidak ada transparan. Informasinya tidak pernah dibuka, tidak ada diumumkan di media,” tegas Donal saat ditemui usai meninggalkan ruang rapat.</p>



<p>Menurut Donal, berdasarkan data yang diterimanya, terdapat 12 orang yang direkrut, namun tidak pernah dijelaskan secara rinci posisi atau jabatan apa saja yang diisi. Bahkan, masyarakat tidak mengetahui mekanisme seleksi yang digunakan.</p>



<p>&#8220;Lamaran sudah menumpuk dari tahun-tahun sebelumnya. Tapi yang diterima justru orang-orang baru. Tesnya seperti apa? Alasannya apa yang lama tidak diterima? Tidak pernah ada penjelasan,” ujarnya.</p>



<p>Ia juga menyoroti bahwa penerimaan karyawan hanya berasal dari wilayah perkotaan Nunukan, tanpa melibatkan masyarakat dari daerah lain seperti di dapil IV dan Kabudaya maupun wilayah pedalaman lainnya.</p>



<p>&#8220;Bukan cuma orang kota yang butuh makan. Keluarga kita di Sebatik, Krayan, dan pedalaman juga butuh pekerjaan,” katanya.<br />Donal menilai, seharusnya jika rekrutmen dilakukan secara terbuka dan transparan, maka semua masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk melamar dan mengikuti seleksi secara adil.</p>



<p>Kekecewaan Donal memuncak saat ia merasa tidak dihargai dalam forum resmi tersebut. Ia mengungkapkan, pimpinan PDAM justru terlihat berbisik-bisik saat dirinya menyampaikan pendapat.</p>



<p>“Saya keluar karena direkturnya seperti tidak menghargai kita yang sedang berbicara. Harusnya dengarkan dulu, baru beri jawaban, bukan malah bisik-bisik,” ujarnya.</p>



<p>Ia bahkan menduga, tanpa adanya transparansi, rekrutmen yang dilakukan berpotensi hanya mengakomodir kepentingan keluarga atau kelompok internal.</p>



<p>&#8220;Kita tidak tahu apakah yang diterima itu keluarga mereka semua. Kalau begini caranya, jelas tidak ada transparansi,” tutupnya.<br />Terakhir, Donal juga menegaskan Perumda Tirta Taka Nunukan agar tidak melakukan diskrimatif terhadap calon tenaga kerja di wilayah lainnya.</p>



<p>&#8220;Nunukan bukan milik satu dua orang atau kelompok tertentu, namun Nunukan adalah milik kita bersama,&#8221; tuturnya.</p>



<p>Sementara itu dalam rapat tersebut, Kepala Teknis ; Perumda Tirta Taka Nunukan, Rudiansyah ; mengungkapkan pihaknya hanya melakukan pengusulan penambahan SDM di bagian produksi.<br />&#8220;Selebihnya itu, merupakan kewenangan bagian SDM,&#8221; pungkasnya.(*)</p>
<div class="printfriendly pf-button pf-button-content pf-alignleft">
 <a href="#" rel="nofollow" onclick="window.print(); return false;" title="Printer Friendly, PDF & Email">
 <img class="pf-button-img" src="https://cdn.printfriendly.com/buttons/printfriendly-pdf-email-button.png" alt="Print Friendly, PDF & Email" style="width: 170px;height: 24px;" />
 </a>
 </div>
This website uses cookies.