<p><strong>NUNUKAN</strong>, <em>borderterkini.com</em> – Lonjakan kasus Tuberkulosis (TB) di Kabupaten Nunukan sepanjang tahun 2025 memasuki fase mengkhawatirkan.</p>



<p>Dari total 545 kasus TB yang tercatat pada 2025, sebanyak 100 kasus menimpa anak-anak, termasuk bayi di bawah usia dua tahun (baduta).</p>



<p>Data ini menandai TB bukan lagi sekadar penyakit orang dewasa, melainkan telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak dan generasi masa depan.</p>



<p>Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Nunukan, Hj. Miskia, menegaskan angka tersebut melonjak jika tajam dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat 378 kasus TB, atau meningkat sekitar 42 persen.</p>



<p>&#8220;Tentunya ini menjadi catatan kita bagi sistem kesehatan daerah, terutama dalam upaya perlindungan anak,&#8221; terangnya pada Rabu (21/1).</p>



<p>Miskia juga mengatakan bahwa kasus ratusan TB yang ditemukan ini menyerang seluruh kelompok usia. Namun, setelah dilakukan pemisahan data berdasarkan usia, kasus TB pada anak justru menunjukkan angka yang mencolok.</p>



<p>“Kasus TB di tahun 2025 ini berasal dari semua kelompok usia. Tapi setelah data anak kita pisahkan, ternyata jumlahnya cukup tinggi dan ini sangat memprihatinkan,” terangnya.</p>



<p>Menurutnya, salah satu persoalan utama yang menyebabkan tingginya kasus TB anak adalah rendahnya kesadaran orang tua terhadap gejala awal penyakit. Miskia menuturkan, batuk pada anak masih sering dianggap sebagai keluhan ringan.</p>



<p>&#8220;Banyak orang tua mengira batuk itu karena minum es, flu biasa, atau masuk angin. Akhirnya anak tidak dibawa periksa,” katanya.</p>



<p>Padahal, dalam standar kesehatan saat ini, batuk yang berlangsung selama tiga hari sudah harus mendapat perhatian medis.</p>



<p>&#8220;Sekarang ini batuk tiga hari saja sudah harus diperiksa. Jangan sampai dibiarkan, karena kalau itu TB, penularannya cepat dan dampaknya berat bagi anak,” tegasnya.</p>



<p>Miskia menjelaskan, TB pada anak sering kali tidak terdeteksi sejak awal karena gejalanya menyerupai penyakit lain, seperti pneumonia atau infeksi saluran pernapasan akut.</p>



<p>“Awalnya bisa pneumonia. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti DCM atau tes tuberkulin, baru diketahui anak tersebut positif TB atau BTA. Jadi memang tidak langsung terdeteksi,” jelasnya.</p>



<p>Kondisi ini menyebabkan TB pada anak sering terlambat ditangani, sehingga berpotensi menimbulkan komplikasi serius dan meningkatkan risiko penularan di lingkungan sekitar.</p>



<p>Miskia juga menjelaskan bahwa di tahun 2025, pihaknya ada mencatat 2.816 orang terduga TB. Dari jumlah tersebut, 545 orang dinyatakan positif TB setelah menjalani pemeriksaan lanjutan dan masuk dalam data kasus aktif.</p>



<p>“Kalau hasilnya positif, langsung kita masukkan dalam data kasus. Jadi angka 545 ini sudah termasuk 100 kasus TB anak,” ujar Miskia.</p>



<p>Ia menambahkan, meskipun peningkatan kasus ini juga dipengaruhi oleh masifnya deteksi dini, tingginya angka TB anak tetap menjadi peringatan keras bagi semua pihak.</p>



<p>&#8220;Kita berharap peningkatan kesadaran orang tua untuk memeriksakan anak sejak dini dapat menjadi kunci utama menekan penularan TB dan melindungi masa depan anak-anak Nunukan,&#8221; tutupnya.(*)</p>
<div class="printfriendly pf-button pf-button-content pf-alignleft">
 <a href="#" rel="nofollow" onclick="window.print(); return false;" title="Printer Friendly, PDF & Email">
 <img class="pf-button-img" src="https://cdn.printfriendly.com/buttons/printfriendly-pdf-email-button.png" alt="Print Friendly, PDF & Email" style="width: 170px;height: 24px;" />
 </a>
 </div>
This website uses cookies.