Kelangkaan Minyak Kita di Nunukan, Harga Minyak Non-Subsidi Ikut Naik

NUNUKAN, borderterkini.com – Ketersediaan minyak goreng subsidi pemerintah “Minyak Kita” di Kabupaten Nunukan dilaporkan mengalami kelangkaan sepanjang April 2026.

Pemerintah daerah memastikan kondisi ini terjadi akibat terbatasnya pasokan dari Perum Bulog yang hingga kini belum kembali menyalurkan kuota tambahan ke wilayah perbatasan tersebut.

Kepala Bidang Perdagangan DKUKMPP Kabupaten Nunukan, Dior Frames, mengungkapkan stok minyak subsidi di daerah itu sudah kosong sejak pertengahan April.

“Memang saat ini kita mengalami kelangkaan Minyak Kita karena kuota dari Bulog belum tersedia. Pengajuan sudah kami sampaikan, tetapi terakhir kami hanya menerima sekitar 500 kotak menjelang Maret untuk persiapan Idul Fitri,” kata Dior.

Ia menjelaskan, stok yang sempat tersedia tersebut didistribusikan melalui Kios TPID di UKM Center Nunukan. Namun, tingginya permintaan masyarakat membuat persediaan cepat habis.

“Penyaluran terakhir itu memang difokuskan untuk menjaga stabilitas harga menjelang hari besar keagamaan. Sekarang stoknya sudah tidak ada lagi, sehingga kami sangat berharap ada penambahan kuota secepatnya,” ujarnya.

Di tengah kelangkaan minyak subsidi, harga minyak goreng non-subsidi justru mengalami kenaikan di tingkat distributor maupun pengecer.

Dior menyebutkan, minyak goreng kemasan ukuran 1,8 liter merek Viola mengalami kenaikan dari Rp37.000 menjadi sekitar Rp40.000. Sementara minyak goreng premium seperti Bimoli dan KunciMas juga naik berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per kemasan.

“Kenaikan ini tidak bisa dihindari karena biaya distribusi meningkat, terutama akibat kenaikan harga solar. Nunukan sangat bergantung pada jalur laut, sehingga biaya transportasi menjadi faktor dominan pembentuk harga,” jelasnya.

Menurutnya, sebagian besar kebutuhan pokok di Nunukan didatangkan dari luar daerah menggunakan kapal kargo swasta maupun armada PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni).

“Begitu ongkos logistik naik, otomatis harga di tingkat distributor ikut terkerek. Ini yang sedang kita antisipasi agar tidak berdampak lebih luas ke masyarakat,” tambah Dior.

Meski menghadapi tekanan pasokan, pemerintah daerah memastikan berbagai langkah intervensi terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok.

“Kios TPID tetap beroperasi setiap hari. Kami berupaya menjaga ketersediaan komoditas lain agar daya beli masyarakat tidak semakin tertekan,” tegas Dior.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah menggelar pasar murah ayam segar bekerja sama dengan mitra kios Palapa pada 24–25 April 2026.

Dalam kegiatan tersebut, ayam dijual seharga Rp36.000 per kilogram, jauh lebih rendah dibanding harga pasar yang mencapai Rp45.000 per kilogram.

“Program ini bukan hanya untuk menekan harga, tetapi juga membantu peternak agar stok ayam di kandang bisa terserap. Saat daya beli turun, peternak juga terdampak,” katanya.

DKUKMPP memastikan harga komoditas lain seperti bawang putih, bawang merah, dan cabai masih relatif stabil. Pemerintah berharap kondisi tersebut tetap terjaga menjelang Hari Raya Idul Adha.

Dior juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan.

“Kami minta masyarakat tidak panic buying. Pasokan logistik melalui jalur laut masih berjalan normal. Jika pembelian dilakukan secara wajar, stabilitas harga bisa tetap terjaga,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan distributor dan agen untuk tidak melakukan penimbunan maupun menaikkan harga secara sepihak.

“Kami berharap semua pihak ikut menjaga situasi tetap kondusif. Dengan kerja sama yang baik, kita bisa melewati kondisi ini tanpa gejolak harga yang signifikan,” tutupnya.(*)

Tinggalkan Balasan