Minyak Goreng Subsidi di Nunukan Kosong, Kuota dari Bulog Belum Turun

NUNUKAN, borderterkini.com – Ketersediaan minyak goreng subsidi Minyak Kita di Kabupaten Nunukan dilaporkan kosong.

Pemerintah daerah menyebut pasokan masih menunggu realisasi kuota distribusi dari Perum Bulog Tarakan.

Kondisi tersebut disampaikan Kepala Bidang Perdagangan DKUKMPP Kabupaten Nunukan, Dior Frames.

Ia menjelaskan, minyak goreng subsidi hanya dapat diperoleh melalui mekanisme pembagian kuota dari Bulog, sehingga daerah tidak bisa mendatangkan stok secara mandiri tanpa penetapan distribusi.

“Kita menunggu kuota dari Bulog Tarakan. Pemerintah daerah hanya bisa mengajukan kebutuhan, sedangkan realisasi pengiriman ditentukan oleh Bulog,” ujarnya.

Menurutnya, selama tiga tahun terakhir Nunukan hanya sekali menerima pasokan Minyak Kita, yakni sebanyak 500 kotak menjelang Idulfitri. Jumlah tersebut setara sekitar 6.000 liter dan disalurkan khusus melalui kios Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

“Kuota yang pernah diberikan itu sekarang sudah habis. Dan itu pun hanya untuk kios TPID, bukan untuk seluruh pedagang di pasaran,” jelasnya.

Dior menyebut, setiap pengajuan kebutuhan minyak subsidi, pemerintah daerah sebenarnya mengusulkan minimal satu kontainer atau sekitar 20 ton. Namun realisasi pengiriman belum pernah memenuhi kebutuhan tersebut.

“Setiap pengajuan kita ajukan satu kontainer, tapi selama tiga tahun ini realisasinya hampir tidak ada. Ini yang membuat stok Minyak Kita sangat terbatas di Nunukan,” katanya.

Keterbatasan pasokan juga diperparah oleh persoalan distribusi logistik. Dior menegaskan, meski Minyak Kita merupakan program subsidi pemerintah pusat, biaya pengiriman dari gudang Bulog di Tarakan ke Nunukan tidak termasuk subsidi.

“Subsidi hanya pada produknya. Ongkos kirim tidak disubsidi, sehingga harus ditanggung pedagang atau pengecer yang memesan langsung,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sebagian pedagang akhirnya mendatangkan Minyak Kita melalui mekanisme antar pedagang.

Namun biaya transportasi yang beragam membuat harga jual di lapangan tidak selalu sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET).

“Harga Rp15.700 itu berlaku jika daerah memiliki gudang Bulog sendiri. Karena gudang ada di Tarakan, maka ada biaya tambahan distribusi ke Nunukan. Itu yang menyebabkan ada selisih harga di pasaran,” terangnya.

Meski minyak goreng subsidi kosong, pemerintah memastikan minyak goreng non-subsidi masih tersedia di toko-toko, seperti produk Bimoli, Kunci Mas, dan Viola.

“Untuk minyak goreng non-subsidi masih ada. Jadi masyarakat tetap bisa membeli minyak goreng, hanya saja bukan yang subsidi,” ujarnya.

Pemerintah daerah terus melakukan pemesanan dan koordinasi dengan Bulog Tarakan agar kuota Minyak Kita segera turun dan pasokan kembali normal di Nunukan.(*)

Tinggalkan Balasan