UGM Bongkar Potensi Raksasa Rumput Laut Nunukan, Ekspor Bisa Tembus Rp8 Triliun

NUNUKAN, borderterkini.com – Komoditas rumput laut yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir Nunukan dinilai memiliki peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara signifikan.

Potensi tersebut akan semakin maksimal jika pengembangannya diarahkan pada hilirisasi industri yang terintegrasi.

Ketua Tim Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Mudrajad Kuncoro, mengungkapkan Nunukan termasuk salah satu sentra produksi rumput laut utama di Indonesia.

Komoditas yang banyak dibudidayakan di wilayah ini adalah jenis Kappaphycus alvarezii atau cottonii yang dikenal memiliki kandungan karaginan bernilai ekonomi tinggi dan diminati pasar global.

Menurutnya, hasil kajian menunjukkan potensi produksi rumput laut di Nunukan diperkirakan mencapai sekitar 695 ribu ton per tahun.

Dengan kapasitas tersebut, peluang ekspor bisa menembus angka 556 juta dolar Amerika Serikat atau setara triliunan rupiah setiap tahun.

“Kontribusi Nunukan terhadap produksi rumput laut Kalimantan Utara sangat dominan, berada di kisaran 60 hingga 80 persen. Ini menunjukkan posisi Nunukan sangat strategis dalam rantai pasok nasional,” ujarnya, Senin (18/5).

Namun demikian, ia menilai nilai tambah ekonomi dari komoditas tersebut belum maksimal. Selama ini sebagian besar rumput laut masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, sehingga keuntungan terbesar justru dinikmati oleh pihak di luar daerah.

Selain itu, para petani juga masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama faktor cuaca dan keterbatasan fasilitas pascapanen.

Tingginya curah hujan kerap mengganggu proses pengeringan tradisional yang masih mengandalkan sinar matahari, sehingga berisiko merusak kualitas hasil panen.

“Dalam kondisi tertentu, kerusakan produk akibat cuaca bisa mencapai 90 persen. Ini tentu menjadi kerugian besar bagi petani,” jelasnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pembangunan industri pengolahan berbasis rumput laut di Nunukan.

Produk turunan seperti karaginan, bioplastik, hingga bahan pangan dan farmasi dinilai memiliki prospek pasar yang sangat luas.

Pengembangan industri hilir ini diyakini mampu membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir, serta memperkuat kapasitas fiskal daerah.

“Jika ingin mendorong percepatan pembangunan, Nunukan harus berani melangkah ke hilirisasi. Jangan hanya berhenti pada produksi bahan baku, tetapi mulai membangun industri pengolahan di daerah,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan