<p><strong>NUNUKAN</strong>, <em>borderterkini.com</em> — Suhu udara di Madinah yang menembus 43 derajat Celcius memaksa petugas Kloter 7 Embarkasi Balikpapan mengambil langkah antisipatif.<br></p>



<p>Jamaah haji asal Kalimantan Utara (Kaltara) yang masuk kategori risiko tinggi (risti) tidak diperkenankan turun saat pengambilan miqat di Bir Ali demi menghindari dampak paparan panas ekstrem.<br></p>



<p>Sebanyak 358 jamaah Kaltara bergerak dari Madinah menuju Makkah untuk melaksanakan umrah wajib. Perjalanan dimulai sekitar pukul 17.00 waktu Arab Saudi dan diperkirakan tiba pada malam hari.<br></p>



<p>Ketua Kloter 7 Embarkasi Balikpapan, H. Sayid Abdullah, menegaskan keputusan tersebut bukan tanpa pertimbangan matang. Faktor keselamatan menjadi prioritas utama.<br></p>



<p>“Cuaca di Madinah sangat ekstrem. Suhu mencapai 43 derajat Celcius. Dalam kondisi seperti ini, risiko dehidrasi dan kelelahan sangat tinggi, khususnya bagi jamaah lansia dan yang memiliki penyakit penyerta. Karena itu kami putuskan jamaah risti tidak turun dari bus saat di Bir Ali,” tegasnya, Jumat (15/5).<br></p>



<p>Ia menjelaskan, secara syariat, niat umrah tetap sah meskipun diambil dari dalam kendaraan.<br></p>



<p>“Pengambilan miqat tidak harus turun ke masjid. Jamaah cukup berniat dari dalam bus ketika melintas di area miqat. Jadi secara fiqih tidak ada masalah. Yang terpenting adalah keselamatan jamaah,” jelasnya.</p>



<p>Menurutnya, sebagian besar jamaah risti dalam kloter tersebut merupakan lansia dengan riwayat hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung ringan. Paparan panas langsung dikhawatirkan memperburuk kondisi mereka.</p>



<p>“Kami tidak ingin ada jamaah yang kolaps karena memaksakan turun di tengah suhu yang sangat terik. Ini langkah pencegahan agar ibadah selanjutnya tetap bisa dijalankan dalam kondisi sehat,” tambahnya.</p>



<p>Sayid juga menyebutkan tim kesehatan kloter terus melakukan pemantauan ketat terhadap kondisi jamaah selama perjalanan.</p>



<p>“Tim medis siaga penuh di dalam bus. Kami rutin mengingatkan jamaah untuk minum, menjaga stamina, dan tidak melakukan aktivitas berlebihan. Keselamatan adalah prioritas,” katanya.</p>



<p>Setibanya di Makkah, jamaah tidak langsung diberangkatkan untuk umrah wajib. Pihak kloter masih menunggu pengaturan resmi dari syarikah dan maktab terkait jadwal pergerakan ke Masjidil Haram.</p>



<p>“Kami harus mengikuti regulasi pergerakan yang sudah ditetapkan. Apalagi kedatangan kami bertepatan dengan hari Jumat. Biasanya Masjidil Haram sangat padat dan ada pengaturan khusus,” ujarnya.<br></p>



<p>Ia memperkirakan jamaah Kaltara kemungkinan baru akan melaksanakan umrah wajib setelah salat Jumat, menyesuaikan situasi di lapangan.<br></p>



<p>“Kami ingin memastikan jamaah bisa beribadah dengan nyaman dan aman. Jangan sampai karena tergesa-gesa, kondisi kesehatan mereka justru terganggu,” pungkasnya.(*)</p>
<div class="printfriendly pf-button pf-button-content pf-alignleft">
 <a href="#" rel="nofollow" onclick="window.print(); return false;" title="Printer Friendly, PDF & Email">
 <img class="pf-button-img" src="https://cdn.printfriendly.com/buttons/printfriendly-pdf-email-button.png" alt="Print Friendly, PDF & Email" style="width: 170px;height: 24px;" />
 </a>
 </div>
This website uses cookies.