ISPU Masuk Kategori Tidak Sehat, Bupati Ibrahim Ali Berlakukan BDR

TANA TIDUNG, borderterkini.com – Pemerintah Kabupaten Tana Tidung mengambil langkah cepat menyikapi memburuknya kualitas udara akibat kabut asap. Kegiatan belajar mengajar di seluruh satuan pendidikan untuk sementara dialihkan dari pembelajaran tatap muka menjadi Belajar Dari Rumah (BDR).

Kebijakan tersebut mulai diterapkan pada 2 September 2026 dan akan dievaluasi mengikuti perkembangan kualitas udara di wilayah Tana Tidung.

Langkah ini diambil setelah hasil pemantauan kualitas udara menunjukkan konsentrasi partikulat halus atau PM2,5 berada pada angka 102. Angka tersebut masuk dalam kategori tidak sehat sehingga dinilai dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila masyarakat, khususnya anak-anak, terlalu lama terpapar udara di luar ruangan.

Bupati Tana Tidung, Ibrahim Ali, mengatakan keputusan menerapkan BDR merupakan bentuk pencegahan untuk melindungi para pelajar dari dampak buruk kabut asap.

Menurutnya, kegiatan pembelajaran tetap harus berjalan, namun kondisi kesehatan siswa menjadi pertimbangan utama di tengah kualitas udara yang belum membaik.

“Untuk sekolah yang ada di Tana Tidung akan kita BDR mulai 2 September ini sampai melihat kondisi udara kira kembali normal seperti semula,” ujar Ibrahim, Rabu (2/9/2026).

Ia menjelaskan, pemerintah daerah terus memantau perkembangan kondisi udara sebelum menentukan kapan pembelajaran tatap muka dapat kembali dilaksanakan. Kebijakan BDR juga diharapkan dapat mengurangi aktivitas anak-anak di luar rumah selama kualitas udara masih berada pada level yang mengkhawatirkan.

Ibrahim menegaskan, kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele karena berdasarkan data yang diterima pemerintah daerah, kualitas udara di Tana Tidung tercatat paling buruk dibandingkan sejumlah kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Utara.

“Ya berdasarkan data yang kita terima Tana Tidung ini tercatat dengan kondisi kualitas udara yang paling buruk dibandingkan kabupaten kota lain yang ada di Kalimantan Utara. Makanya ini juga menjadi perhatian Pemerintah Tana Tidung,” katanya.

Di sisi lain, Ibrahim menyoroti kondisi yang menurutnya cukup ironis. Tana Tidung disebut memiliki tingkat kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang relatif rendah, namun wilayah tersebut justru turut merasakan dampak kabut asap cukup besar.

“Padahal kita ini kalau dibilang Karhutla itu paling kecil, tapi dampaknya kita yang paling besar. Makanya dampaknya ke kita semua ini juga yang kita prihatin,” pungkasnya.

Pemerintah Kabupaten Tana Tidung mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan selama kualitas udara belum kembali normal. Aktivitas di luar ruangan, terutama bagi anak-anak, diharapkan dapat dikurangi sebagai langkah antisipasi terhadap gangguan kesehatan akibat paparan asap dan partikulat udara.(*)

Tinggalkan Balasan