NUNUKAN, borderterkini.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Nunukan tak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.
Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Nunukan, Hj. Miskia, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap paparan kabut asap sebagai persoalan biasa.
Menurutnya, asap karhutla membawa partikel yang dapat mengiritasi mata, hidung hingga tenggorokan. Paparan tersebut dapat memicu sejumlah keluhan, seperti batuk, pilek, mata perih dan berair, sakit kepala hingga sesak napas.
“Paparan asap ini perlu kita waspadai karena dapat mengganggu kesehatan, terutama kesehatan saluran pernapasan. Masyarakat harus berupaya mengurangi paparan asap selama kondisi ini masih terjadi,” terang Miskia, Selasa (1/9).
Ancaman tersebut menjadi lebih serius bagi warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Paparan asap dapat memperburuk kondisi penderita asma, bronkitis maupun penyakit paru lainnya.
Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil dan lanjut usia juga perlu mendapat perhatian lebih karena lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan ketika kualitas udara memburuk.
Miskia meminta masyarakat tidak memaksakan diri beraktivitas di luar rumah ketika asap semakin tebal. Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan ketika warga terpaksa harus berada di luar ruangan.
“Kami mengimbau masyarakat menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah. Kalau tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya aktivitas di luar ruangan dikurangi, terlebih ketika asap semakin tebal,” katanya.
Perlindungan juga perlu dilakukan dari dalam rumah. Masyarakat diminta menutup pintu dan jendela dengan rapat untuk mengurangi masuknya asap. Warga juga dianjurkan memperbanyak minum air putih, mengonsumsi makanan bergizi dan memastikan waktu istirahat tetap cukup.
Dinkes P2KB mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan keluhan kesehatan selama paparan asap berlangsung. Batuk yang terus-menerus, sesak napas atau gangguan pernapasan lainnya perlu segera diperiksa, terutama jika kondisinya semakin berat.
“Kalau mengalami batuk yang terus-menerus, sesak napas atau gangguan pernapasan lainnya, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” tegasnya.
Selain gangguan pernapasan, paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata, seperti rasa perih dan berair. Risiko kesehatan dapat semakin besar apabila paparan berlangsung dalam waktu lama, terutama bagi kelompok rentan dan penderita penyakit kronis.
Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan selama kualitas udara belum kembali normal. Masyarakat diminta mengurangi paparan asap dan memperhatikan kondisi kesehatan meskipun asap tidak selalu terlihat pekat.
Di sisi lain, Miskia menegaskan bahwa upaya melindungi kesehatan masyarakat tidak terlepas dari pencegahan karhutla. Selama titik api masih muncul, risiko paparan asap juga tetap terbuka.
Ia mengajak masyarakat ikut mencegah kebakaran hutan dan lahan, termasuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.
“Asap tidak hanya mengganggu, tetapi juga membahayakan. Karena itu, mari bersama-sama mencegah kebakaran hutan dan lahan. Jangan membuka lahan dengan cara membakar,” pungkasnya.(*)
Dinkes Ingatkan Ancaman Gangguan Pernapasan Karena Kabut Asap





