Saat Warga Sakit, Tandu Jadi Satu-satunya ‘Ambulans’ di Wa’yagung

NUNUKAN, borderterkini.com – Ketika sirene ambulans menjadi harapan bagi banyak orang saat kondisi darurat, cerita berbeda masih terjadi di Desa Wa’yagung, Kecamatan Krayan Timur. Di desa yang berada di wilayah perbatasan itu, tandu yang dipikul bergantian oleh warga masih menjadi satu-satunya cara membawa pasien menuju pertolongan.

Belum lama ini, seorang warga yang jatuh sakit harus ditandu dari area persawahan menuju rumahnya. Bukan karena ambulans terlambat datang, melainkan karena kendaraan roda empat sama sekali tidak bisa menjangkau desa tersebut. Jalan menuju Wa’yagung hingga kini masih berupa jalan setapak.

Video yang memperlihatkan warga bergotong royong memikul pasien pun menjadi potret nyata sulitnya akses infrastruktur di pedalaman Krayan Timur. Bagi masyarakat setempat, pemandangan seperti itu bukan sesuatu yang luar biasa, melainkan kenyataan yang terus berulang setiap kali ada warga membutuhkan pertolongan medis.

Camat Krayan Timur, Marjuni, membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, keterisolasian Desa Wa’yagung membuat masyarakat tidak memiliki pilihan lain selain mengandalkan tenaga manusia.

“Jalan menuju Wa’yagung masih berupa jalan setapak. Kalau ada warga sakit, mereka harus ditandu karena kendaraan tidak bisa masuk,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi itu sudah berkali-kali terjadi. Persoalan akses jalan masih menjadi pekerjaan rumah terbesar di wilayahnya karena berdampak langsung terhadap pelayanan dasar masyarakat.

“Kejadian seperti ini sudah beberapa kali terjadi. Di Krayan ini persoalannya akses jalan. Ini persoalan mendasar yang belum terselesaikan dan terus mengancam keselamatan masyarakat, terutama saat ada warga yang sakit,” tegasnya.

Perjuangan warga tidak berhenti setelah pasien berhasil ditandu. Untuk mendapatkan penanganan medis, pasien masih harus dibawa menuju Pustu Long Umung. Jika membutuhkan penanganan lebih lanjut, perjalanan kembali dilanjutkan ke Puskesmas Long Bawan atau dirujuk ke RS Pratama Krayan Barat.

Seluruh perjalanan itu harus ditempuh melalui akses yang hanya dapat dilalui sepeda motor. Bahkan di sejumlah titik masih terdapat longsoran yang membuat perjalanan semakin sulit, terutama saat musim hujan.

Marjuni mengungkapkan pemerintah sebenarnya telah mulai melakukan pembangunan infrastruktur. Sebuah jembatan dibangun melalui APBD 2025 dan ruas jalan nasional di Krayan Timur tahun ini juga mendapatkan alokasi pemeliharaan.

Namun harapan masyarakat Wa’yagung belum sepenuhnya terjawab. Ruas jalan menuju desa mereka masih belum tersambung sehingga warga tetap hidup dengan keterbatasan akses.

“Warga berharap akses jalan menuju Wa’yagung segera diperbaiki agar bisa dilalui kendaraan. Selama persoalan jalan belum selesai, masyarakat akan terus kesulitan memperoleh pelayanan dasar, termasuk layanan kesehatan. Kami berharap kondisi ini segera menjadi perhatian karena menyangkut keselamatan warga,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan