Ketergantungan Tinggi, Nunukan Didorong Perkuat Produksi Pangan Lokal

NUNUKAN, borderterkini.com – Ketergantungan terhadap pasokan bahan pangan dari luar daerah masih menjadi tantangan utama bagi Kabupaten Nunukan. Kondisi ini dinilai rawan, terutama jika terjadi gangguan pada jalur distribusi yang selama ini menjadi penopang kebutuhan masyarakat di wilayah perbatasan tersebut.

Pemerintah Kabupaten Nunukan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) mulai mendorong langkah strategis untuk memperkuat produksi pangan lokal sebagai solusi jangka panjang.

Kepala DKPP Kabupaten Nunukan, Masniadi, S.Hut., M.A.P., mengungkapkan bahwa selama ini sejumlah kebutuhan pokok masih didatangkan dari luar daerah, bahkan hingga dari Sulawesi, Jawa, dan Malaysia.

“Kalau jalur distribusi terganggu, tentu ini akan menjadi persoalan. Karena itu kita perlu mendorong produksi pangan lokal secara lebih besar,” ujarnya, Rabu (18/3).

Menurutnya, beberapa komoditas seperti cabai, tomat, ikan, dan daging ayam kerap menjadi penyumbang fluktuasi harga di daerah, sehingga diperlukan intervensi yang lebih terarah untuk menekan ketergantungan tersebut.

Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah pengembangan program kampung hortikultura, dengan menetapkan wilayah tertentu sebagai sentra produksi komoditas strategis, khususnya cabai dan tomat.

“Kita akan mulai dengan pendataan petani dan kelompok tani, kemudian diberikan intervensi sesuai kebutuhan, seperti benih, pupuk, dan sarana produksi lainnya,” jelasnya.

Masniadi menambahkan, wilayah Simpang Kadir, Kelurahan Nunukan Selatan, menjadi salah satu lokasi yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan hortikultura.

Pada tahun ini, program masih difokuskan pada tahap perencanaan dan pendataan, sementara intervensi secara maksimal akan mulai dijalankan pada tahun berikutnya.

“Di sisi lain, distribusi bahan pangan ke Nunukan juga masih menghadapi kendala, terutama tingginya biaya logistik yang membuat pasokan dari luar daerah belum optimal,” ungkapnya.

Sementara itu, dari data rilis Perum Bulog Tarakan bahwa penyaluran beras SPHP pada Januari 2026 hanya sekitar 6 ton, sementara pada Februari tidak ada distribusi. Memasuki pertengahan Maret, distribusi kembali dilakukan dengan sekitar 9 ton beras dan 6 ribu liter minyak goreng.

Meski demikian, ketersediaan stok pangan di daerah masih dalam kondisi aman. Cadangan beras di gudang tercatat sekitar 1.400 ton, minyak goreng 55 ribu liter, serta gula sekitar 2 ton. Bahkan, tambahan pasokan gula sebanyak 25 ton telah disiapkan untuk masuk setelah Lebaran.

Dengan kondisi tersebut, ketersediaan beras diperkirakan masih mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hingga beberapa bulan ke depan. Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk berbelanja secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
“Ketahan pangan harus diperkuat dengan peningkatan produksi lokal,” ungkapnya.(*)

Tinggalkan Balasan