NUNUKAN, borderterkini.com – Pemerintah terus mempercepat pengembangan kawasan perbatasan dengan mendorong Kabupaten Nunukan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah utara Kalimantan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pembangunan Kawasan Perbatasan Tahun 2026 yang mempertemukan pemerintah pusat, daerah, akademisi, serta pemangku kepentingan lintas sektor.
Wakil Gubernur Kalimantan Utara, Ingkong Ala, menegaskan posisi Nunukan yang berbatasan langsung dengan Sabah menjadi peluang strategis untuk memperkuat perdagangan lintas negara dan menarik investasi.
“Kawasan perbatasan harus kita dorong menjadi pintu gerbang ekonomi Indonesia. Nunukan memiliki peluang besar menjadi simpul perdagangan dan logistik di wilayah utara Kalimantan,” ujarnya.
Menurutnya, percepatan pembangunan konektivitas menjadi kunci agar arus barang dan jasa dapat bergerak lebih cepat.
Infrastruktur jalan, pelabuhan, energi, serta jaringan telekomunikasi disebut sebagai sektor prioritas yang harus segera diperkuat.
Wakil Bupati Nunukan, Hermanus, menyampaikan bahwa transformasi ekonomi perbatasan harus memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Ia menilai pengembangan kawasan perbatasan tidak hanya berorientasi pada investasi, tetapi juga pembukaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi lokal.
“Kita ingin pertumbuhan ekonomi di perbatasan berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kolaborasi semua pihak menjadi sangat penting,” katanya.
Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah Kabupaten Nunukan, Robby Nahak Serang, menilai Nunukan memiliki potensi menjadi gerbang perdagangan internasional sekaligus pusat logistik di perbatasan.
“Letak geografis Nunukan berada di jalur perdagangan lintas negara yang aktif. Ini peluang besar untuk mengembangkan kawasan industri berbasis sumber daya lokal serta memperkuat sektor perdagangan,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan UMKM, perikanan, pertanian, dan sektor jasa menjadi bagian penting dalam membangun fondasi ekonomi perbatasan.
Dari kalangan akademisi, Mudrajad Kuncoro dari Universitas Gadjah Mada menilai pembangunan kawasan perbatasan harus diarahkan pada penciptaan ekosistem ekonomi yang terintegrasi.
“Wilayah perbatasan memiliki keunggulan komparatif dalam perdagangan lintas negara. Dengan kebijakan yang tepat, Nunukan bisa tumbuh menjadi pusat ekonomi baru,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menciptakan iklim investasi yang kompetitif agar sektor swasta tertarik mengembangkan usaha di kawasan perbatasan.(*)





