NUNUKAN, borderterkini.com – Harga bahan bakar minyak (BBM) di wilayah dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, melonjak tajam hingga menembus Rp40 ribu per liter.
Kenaikan harga ini dipicu oleh rusaknya akses jalan penghubung antar kecamatan yang diperparah oleh curah hujan tinggi yang terus mengguyur kawasan perbatasan tersebut.
Kondisi jalan lingkar Krayan yang menghubungkan Lembudud – Long Layu – Binuang kini dilaporkan rusak parah. Jalan yang menjadi jalur utama distribusi barang dan bahan bakar itu berubah menjadi lumpur dan sangat sulit dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.
Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, mengatakan hujan yang hampir setiap hari mengguyur kawasan Krayan membuat kondisi jalan semakin memburuk. Kendaraan pengangkut logistik, termasuk BBM, kerap terjebak di tengah jalan karena jalur yang licin dan berlumpur.
“Curah hujan masih cukup tinggi. Kondisi ini membuat jalan lingkar Krayan semakin rusak dan sulit dilalui kendaraan. Mobil maupun motor sangat kesulitan melintas,” ujarnya pada Senin (16/3).
Dampak paling terasa adalah terganggunya pasokan BBM untuk masyarakat. Saat ini, stok BBM jenis solar dilaporkan sudah habis, sementara persediaan pertalite semakin menipis di sejumlah titik di Krayan Selatan.
Menurut Oktavianus, keterbatasan pasokan membuat harga BBM di tingkat masyarakat melonjak drastis. Jika sebelumnya harga masih relatif terkendali, kini masyarakat harus membeli bensin dengan harga yang jauh lebih tinggi.
“Solar sudah kosong. Sementara stok pertalite juga semakin menipis. Kondisi ini membuat harga BBM naik cukup tinggi,” katanya.
Di sejumlah lokasi, harga bensin bahkan sudah mencapai kisaran Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per liter. Kenaikan ini tidak hanya dipicu oleh kelangkaan pasokan, tetapi juga melonjaknya biaya distribusi akibat kondisi jalan yang rusak.
Para pengangkut BBM harus menghadapi risiko besar di perjalanan. Kendaraan sering kali terjebak di jalur berlumpur, bahkan tidak jarang harus ditarik menggunakan kendaraan lain agar bisa keluar dari jalan yang rusak.
“Biaya mobil jadi mahal karena kondisi jalan sangat sulit. Kalau mobil tertahan di jalan harus ditarik, itu membutuhkan biaya tambahan. Semua itu akhirnya berpengaruh pada harga BBM di masyarakat,” jelasnya.
Kenaikan harga BBM ini tidak hanya membebani masyarakat pengguna kendaraan, tetapi juga berdampak pada harga kebutuhan pokok lainnya. Biaya transportasi yang meningkat membuat harga barang ikut terkerek naik karena ongkos angkut yang semakin mahal.
Situasi ini membuat masyarakat di wilayah perbatasan Krayan semakin tertekan. Selain harus menghadapi keterbatasan akses transportasi, mereka juga harus menanggung lonjakan harga bahan bakar yang menjadi kebutuhan utama untuk mobilitas dan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Oktavianus berharap ada perhatian serius dari pemerintah untuk memperbaiki akses jalan di wilayah Krayan agar distribusi logistik, termasuk BBM, bisa kembali normal.
“Kalau kondisi jalan terus seperti ini, distribusi BBM dan kebutuhan pokok akan semakin sulit. Kami berharap ada penanganan segera agar akses transportasi di Krayan bisa kembali lancar,” pungkasnya.(*)





