NUNUKAN, borderterkini.com – Kemunculan kucing merah (Catopuma badia) di kebun warga Krayan, Kabupaten Nunukan, menjadi perhatian. Satwa endemik Kalimantan yang dikenal sulit dijumpai itu muncul hanya sekitar dua kilometer dari kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM).
Satwa tersebut dijumpai Ferli, staf Resort Krayan, ketika sedang beristirahat di kebunnya. Kemunculannya berlangsung tiba-tiba hingga Ferli sempat tidak mengetahui jenis satwa yang dilihatnya.
“Pas ketemunya itu mulainya dari daerah kebun saya yang nggak jauh dari kawasan Taman Nasional, kurang lebih ada sekitar dua kilo. Saat penemuannya saya lagi duduk istirahat, tidak lama muncul binatang itu, kita tidak tahu jenisnya binatang apa,” tutur Ferli, Kamis (24/9/2026).
Setelah mencari informasi dan mencocokkan ciri-ciri satwa tersebut, Ferli mengetahui bahwa hewan yang muncul di sekitar kebunnya merupakan kucing merah.
Kemunculan kucing merah di lokasi yang berdekatan dengan kawasan TNKM menjadi catatan penting mengenai keberadaan satwa liar di wilayah Krayan. Terlebih, satwa ini bukan jenis yang mudah ditemukan secara langsung.
Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, S.Hut., M.E., mengatakan keberadaan kucing merah memang terus dipantau oleh petugas TNKM.
Catatan mengenai satwa tersebut telah ada sejak 2003. Kucing merah kembali ditemukan pada 2023 dan terakhir tercatat pada 2025.
“Yang pertama ditemukan tahun 2003 dan kembali ditemukan tahun 2023 dan terakhir 2025,” ujar Seno.
Untuk wilayah Kabupaten Nunukan, keberadaan kucing merah juga telah didokumentasikan petugas TNKM. Pada 2023, petugas menemukan dan mendapatkan rekaman video kucing merah di wilayah Krayan.
“Staf kami, petugas kami juga menemukan dan mendapatkan videonya kucing merah ini di Krayan di Kabupaten Nunukan,” jelasnya.
Kemunculan di kebun warga memperlihatkan bahwa keberadaan satwa liar tidak sepenuhnya terpisah dari aktivitas masyarakat. Kawasan hutan di sekitar Krayan masih menjadi bagian penting dari ruang hidup berbagai jenis satwa.
Bagi pengelola TNKM, laporan dari lapangan menjadi informasi berharga untuk mengetahui keberadaan dan sebaran satwa. Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan pun dapat berperan dalam memberikan informasi ketika menemukan satwa liar.
Namun, perjumpaan dengan satwa langka juga menjadi pengingat agar masyarakat tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu atau membahayakan satwa.
Ferli berharap keberadaan kucing merah di Krayan dapat terus dijaga bersama.
“Harapannya ke depan, untuk masyarakat, kita bisa menjaganya dan melestarikannya supaya lebih aman dan terjaga,” katanya.
Seno juga mengimbau masyarakat dan seluruh pihak yang berada di sekitar kawasan TNKM untuk ikut menjaga keberadaan kucing merah sekaligus habitatnya.
“Untuk itu kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, seluruh pihak yang ada untuk dapat membantu kami di dalam melestarikan kucing merah ini yang sudah sangat langka dan menjadi satwa endemik di Kalimantan Utara pada umumnya,” tegas Seno.
Kemunculan kucing merah sekitar dua kilometer dari kawasan TNKM pun bukan sekadar perjumpaan tak sengaja di kebun warga.
Temuan tersebut menjadi bagian dari catatan keanekaragaman hayati di wilayah perbatasan sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga hutan sebagai ruang hidup satwa liar.(*)





