Warga Mamolo Mulai Geram, Satu Ekor Buaya Dibunuh

NUNUKAN – Insiden diterkamnya seorang bocah berusia 6 tahun oleh buaya di bantaran Sungai Mamolo benar-benar memicu kemarahan warga.

Kesabaran masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan ancaman buaya akhirnya habis.

Hal itu dilihat dari pembunuhan satu ekor buaya, sekira pukul 15.00 WITA, Minggu (1/2) sore. Peristiwa ini bertepatan dengan kondisi air sungai yang mulai surut.

Momentum tersebut dimanfaatkan warga untuk melakukan pengejaran terhadap seekor buaya yang selama ini kerap muncul di sekitar permukiman dan lokasi aktivitas warga.

Menurut Kamaruddin, warga Mamolo, aksi pembunuhan buaya berlangsung cukup lama dan tidak mudah. Buaya tersebut sempat memberikan perlawanan meski telah diserang berkali-kali.

“Awalnya buaya itu diparangi beberapa kali, tapi masih hidup dan terus bergerak. Setelah itu ditembak menggunakan senapan angin, tapi masih juga berusaha melarikan diri,” ujar Kamaruddin pada Minggu (2/2).

Karena upaya tersebut belum berhasil melumpuhkan buaya, warga akhirnya mengambil langkah terakhir. Dengan alat seadanya, warga menombak buaya hingga akhirnya hewan buas itu benar-benar mati di tempat.

“Kita tidak tahu apakah buaya yang menyerang anak 6 tahun kemarin atau tidak. Karena disini banyak buaya tidak bisa dibedakan,” pungkasnya.

Aksi ini, lanjut Kamaruddin, bukan dilakukan tanpa alasan. Ketakutan dan trauma warga, terutama setelah insiden yang menimpa anak kecil, membuat situasi di Mamolo semakin mencekam.

“Ini sudah sangat meresahkan. Kami takut anak-anak, takut juga orang dewasa yang biasa beraktivitas di sungai. Kejadian kemarin itu sudah puncaknya,” katanya.

Kamaruddin menegaskan, buaya yang dibunuh tersebut bukanlah buaya berukuran besar. Panjangnya diperkirakan hanya sekitar satu meter lebih. Namun, hal itu justru menambah kekhawatiran warga.

“Yang dibunuh ini ukurannya tidak besar. Di Mamolo masih banyak buaya lain yang ukurannya jauh lebih besar dan masih bebas berkeliaran sampai sekarang,” ungkapnya.

Menurut warga, kemunculan buaya di Sungai Mamolo bukanlah hal baru. Namun dalam beberapa waktu terakhir, intensitas kemunculannya semakin sering dan semakin dekat dengan permukiman.

“Dulu masih jarang muncul, sekarang hampir tiap hari warga lihat. Sudah tidak takut lagi sama manusia,” kata Kamaruddin.

Ironisnya, lanjut dia, sebenarnya telah direncanakan pertemuan resmi antara warga dan pihak kelurahan untuk membahas langkah penanganan buaya di wilayah Mamolo. Rapat tersebut dijadwalkan digelar di kantor kelurahan pada Senin (2/2).

“Besok sebenarnya mau dirapatkan di kantor kelurahan, untuk cari solusi soal buaya. Tapi warga sudah tidak bisa menunggu lagi. Rasa takut dan emosi sudah campur jadi satu,” jelasnya.

Warga menilai, jika tidak segera ditangani secara serius oleh pemerintah daerah dan instansi terkait, ancaman buaya dikhawatirkan akan kembali memakan korban, terutama anak-anak yang sering bermain di sekitar sungai.

“Kami berharap ada tindakan nyata. Jangan sampai setelah ada korban baru semua bergerak,” tegas Kamaruddin.

Hingga kini, warga Mamolo masih diliputi rasa was-was. Meski satu ekor buaya telah dibunuh, ancaman buaya lain yang berukuran lebih besar masih menghantui kehidupan masyarakat di bantaran Sungai Mamolo.(*)

Tinggalkan Balasan